Selasa, 09 Oktober 2012

Kemampuan Hewan Dengan Manusia


Dalam dunia hewan naluri sebagai alat utama yang mampu menjaganya tetap berada pada jalur kodrat alam atau kodrat  Sang Pencipta jagad raya. Sedangkan manusia yang hanya berbekal kemampuan akal yang tinggi akan lebih sulit  menempatkan diri pada jalur hukum alam atau kodrat Tuhan. Hal ini sekilas tampak tidak mungkin namun kenyataannya  demikian adanya. Karena di satu sisi akal manusia keberadaannya di dalam bungkusan nafsu. Resikonya adalah penguasaan  nafsu atas jiwa . Di sisi lain otak manusia dapat berubah  menjadi sumber imajinasi yang keliru, resikonya berupa salah tafsir, salah sangka, salah duga, salah kira.

Jalan satu-satunya menyelamatkan diri adalah peningkatan akan kesadaran, sehingga mudah memilah mana kebenaran sejati  mana kepalsuan. Jika manusia tidak memiliki tingkat kesadaran yang layak,manusia beresiko tinggi mendapat malapetaka  kehidupan karena secara sadar atau tidak dapat terjebak nafsu ragawi dan imajinasi akal yang palsu. Akal sering dibangga- banggakan manusia karena diyakini mampu mengangkat derajat kemanusiaannya. Terlebih lagi manusia mengklaim diri  dengan dimilikinya akal menjadikannya sebagai makhluk paling sempurna.

Tapi jangan gegabah, akal bagaikan pisau bermata  dua. Mata yang satunya dapat memuliakan manusia, mata yang satu lagi sebaliknya dapat menyebabkan sebuah malapetaka  besar manusia menjadi makhluk paling hina di dunia.

Dalam konteks seperti ini  tentunya hewan lebih merdeka dibanding manusia, karena hewan terbebas dari segala tanggung  jawab atas kemampuannya. Sebaliknya manusia terbebani untuk memper-tanggung-jawabkan atas segala kemampuan,  kelebihan dan kesadaran yang dimilikinya. Hewan tidak punya pilihan sedangkan manusia memiliki berjuta pilihan. Salah  memilih resikonya adalah malapetaka di dunia maupun setelah ajal tiba.

Tidak ada orang pandai yang tidak pernah salah,
Tidak ada orang bodoh yang tidak pernah benar.
Satu kebenaran intuitif seseorang
bagaikan satu bintang di antara trilyunan bintang
Sedangkan kemampuan manusia mengungkap kebenaran intuitif
Tidak sebanyak jumlah manusia di bumi
Apalagi sebanyak bintang di langit

************

||*admin||

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar